MUSLIMAH, “TONGGAK” PERADABAN DAN GENERASI INTELEKTUAL ISLAM

“Allah mensyariatkan kepadamu tentang anak-anakmu, yaitu bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan...” (An Nisaa’11)
Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan, mulai dari suku, bangsa, bahasa, budaya, dan sebagainya, tak terkecuali Allah telah menciptakan dua jenis manusia, yaitu pria dan wanita yang memiliki porsinya masing-masing dalam mengemban tugas sebagai khalifah di bumi Allah. Sebagimana ciptaan Allah, pastilah hal tersebut memiliki tujuan dan maksud tersendiri, mungkin kita tidak pernah berfikir dan bertanya kepada diri kita sendiri, “mengapa saya diciptakan sebagai seorang wanita ataupun sebagai seorang pria?”
Wanita dianugerahi oleh Allah berbagai macam keunikan dan sifat yang mendasari dirinya, yaitu lembut, penyayang, dan juga perasa. Sifat-sifat tersebut merupakan tonggak bagi wanita dalam menjalankan tugasnya baik sebagai anak perempuan, kakak perempuan, ataupun sebagai ibu dari anak-anaknya. Sifat tersebut juga menjadi cerminan bahwa wanita adalah seorang pendidik yang handal dan pengayom yang teduh bagi seorang anak dan generasi penerus bangsa.
Sepak terjang wanita telah banyak diakui sebagai salah satu pemegang peranan penting dalam terbentuknya peradaban islam mulai dari masa awal penyebaran islam hingga masa kejayaan intelektual islam.
Salah satu nama yang tidak dapat kita lepaskan dari masa dakwah Rasulullah SAW, yaitu bunda Khadijah RA. Pengorbanan dan jasa beliau dalam menemani dakwah Rasul bahkan sangat dikenang oleh sang suami. Dukungan moril maupun meterial yang telah beliau korbankan merupakan bentuk kasih sayangnya pada sang suami dan juga terhadap agamanya. Selain itu, kita juga dapat melihat kontribusi bunda Aisyah RA dalam masa setelah wafatnya Rasul, banyak hadist yang telah diriwayatkan oleh beliau dan hal tersebut menjadi sumber ilmu bagi generasi selanjutnya.
Kisah perjuangan wanita-wanita mulia diatas, dapat kita pelajari dan resapi bahwa sebagai seorang wanita kita memiliki peran besar dalam membangun peradaban dan generasi insani sesuai dengan kadar dan porsi yang kita miliki.
Di era paham feminisme modern yang banyak mendoktrin mengenai kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan disegala bidang, mulai mengikis ingatan masyarakat tentang peran wanita yang sesungguhnya dalam sebuah keluarga yang merupakan tonggak dan pondasi dari sebuah negara. Para pejuang feminisme berpendapat bahwa wanita memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya. Namun, mereka lupa bahwa islam telah memberikan hak tersebut jauh sebelum teori kesetraan gender didengungkan oleh dunia barat.
Kita dapat melihat bagaimana islam memberikan hak-hak intelektual kepada wanita sejak dahulu hingga saat ini. Bunda Aisyah RA telah memberikan teladan bahwa sebagai wanita kita wajib menuntut dan mempelajari keilmuan, terutama keilmuan agama bahkan hingga menyalurkan keilmukan kita kepada orang lain. Dalam dunia medis kita juga mengenal Rufaidah binti Sa’ad Al-Bani yang merupakan perawat pada masa Rasulullah yang megabdi di kota Madinah untuk membantu merawat kaum muslimin yang sakit. Ini menunjukan bahwa sebagai wanita kita harus cerdas dan memiliki pemahaman yang dalam akan tugas kita yang sesungguhnya, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.
Pemahaman mengenai keilmuan merupakan bekal bagi seorang muslimah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tentunya, ini menuntut kita untuk tidak hanya berdiam diri dalam menjalani kehidupan, menjadi sosok pembelajar yang aktif merupakan tugas dan kewajiban kita terhadap diri sendiri, keluarga, dan juga masyarakat. Terlebih lagi tholabul ‘ilmi merupakan bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT.
Dengan memiliki keilmuan agama dan didukung dengan keilmuan umum lainnya, kita dapat membuat perubahan menuju kepada kehidupan yang penuh dengan kebaikan-kebaikan, kita dapat merubah tatanan yang menyimpang serta dapat memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat paham-paham sekularisme yang melanda generasi saat ini. Hal ini pastinya tidak mudah untuk dilakukan, namun membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang tidak sedikit. Namun, kita dapat memulainya dengan membekali diri sendiri dan juga orang terdekat kita, yaitu keluarga. Sehingga, menjadi wanita muslimah yang cerdas dan berakhlak islami merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk membangun sebuah generasi intelektual.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wanita Anggun

Rebana (Musik Islami)